Sejarah Awal Airsoft Gun di Dunia dan Indonesia

4 Juli 2025 - Oleh Bursa Airsoft Gun Indonesia

Bayangkan menembak dengan senjata replika yang terasa nyata—tanpa risiko peluru tajam! Sejak lahir di Jepang pada 1970-an, airsoft gun telah menyulut gairah jutaan penggemar dunia, termasuk di Indonesia. Mari selami kisah aksi, inovasi, dan komunitas yang membuat airsoft menjadi fenomena global!

Sejarah Awal Airsoft Gun di Dunia

Airsoft bermula di Jepang pada awal 1970-an sebagai alternatif permainan menembak yang tidak menggunakan senjata api asli. Tokoh seperti Yoshihito Shimizu mengembangkan “soft air” dengan peluru plastik 6 mm dan gas tekan (Freon) karena kepemilikan senjata api pribadi dilarang.

Awalnya disebut “soft air gun”, senjata replika ini mulai diminati dan dipasarkan di Jepang, bahkan oleh perusahaan mainan seperti Tomy. Pada 1980-an teknologi airsoft berkembang pesat: Tokyo Marui mengenalkan gearbox motor listrik (AEG) pertamanya, sehingga airsoft bisa menembak cepat berulang kali.

Popularitas airsoft kemudian menyebar ke Eropa, UK (sebagai “soft-air” lewat Leisure Sports), Amerika Serikat, dan negara-negara Asia lainnya sepanjang 1980–1990-an.

Mekanisme dan Teknologi Airsoft Gun

  • Spring (pegas): Peluru plastik dilontarkan oleh tenaga pegas manual. Setiap kali pelatuk ditarik, pegas dilepaskan dan menembakkan satu peluru. Senjata spring sederhana ini adalah jenis pertama airsoft.
  • Gas (termasuk Gas Blowback): Menggunakan gas bertekanan (misalnya CO₂ atau green gas) di tabung internal. Gas ini mendorong peluru dan memindahkan slide agar tampilan senjatanya ikut beraksi (“blowback”), menambah realisme tembakan.
  • Automatic Electric Gun (AEG): Menggunakan motor listrik dan gearbox (terisi baterai isi ulang). AEG dapat menembak otomatis (burst) atau semi-otomatis, memungkinkan tembakan cepat berulang.

Replika pistol spring

Contoh replika pistol airsoft bermekanisme pegas: pelatuk memicu pegas internal yang menembakkan peluru plastik (sumber: Wikimedia Commons).

Replika AK-47 AEG

Contoh senapan airsoft modern (replika AK-47 AEG) dengan bodi plastik/metal lengkap dan sistem gearbox listrik, memungkinkan tembakan otomatis beruntun (sumber: Wikimedia Commons).

Masuk dan Penyebaran di Indonesia

Di Indonesia, airsoft gun mulai dikenal pada akhir 1980-an, terutama jenis spring sederhana. Sekitar tahun 1988 replika airsoft pertama kali masuk pasar Indonesia.

Pada waktu itu minat masih kecil karena aturan tidak jelas; polisi bahkan sempat merazia toko mainan takut disalahgunakan. Baru di akhir 1990-an airsoft mulai tersebar di kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, dan Surabaya.

Pada dekade 2000-an, internet dan komunikasi global memungkinkan lebih banyak model masuk. Misalnya, sekitar 2009 mulai banyak dijual airsoft model AK-47 full metal/wood-body secara bebas, seiring biaya produksi turun.

Seiring waktu berkembang pula komunitas dan klub. Kini hampir setiap kota besar punya komunitas airsoftnya, seperti Predator Airsoft (Jakarta), RATS (Tangerang), Joker Airsoft (Bandung), Lion Airsoft Surabaya, Hellhound (Yogyakarta), dan SEA (Solo).

Kejuaraan regional maupun nasional mulai rutin diadakan, misalnya di FORNAS – tim Kalimantan Selatan di bawah Federasi Airsoft Indonesia (FAI) bahkan tiga kali berturut-turut juara umum kompetisi nasional.

Regulasi dan Hukum Airsoft di Indonesia

Airsoft gun di Indonesia legal dimiliki secara syarat (tidak termasuk senjata api nyata dalam UU Darurat 1951). Polri menggolongkan airsoft sebagai “peralatan keamanan senjata api untuk kepentingan olahraga menembak reaksi” dalam Perkapolri No. 8/2012 yang diperbarui menjadi Perpolri No. 1/2022.

Penggunaan hanya untuk olahraga menembak (skirmish) dengan peluru plastik (BB) di lokasi latihan/pertandingan. Pemilik wajib terdaftar di klub menembak berizin (naungan Perbakin), berusia 15–65 tahun, dan sehat jasmani serta rohani.

Izin diajukan ke Kepolisian Daerah setempat (Direktorat Intelkam) dengan surat rekomendasi klub, bukti kepemilikan/import, dan surat keterangan kesehatan; izin berlaku satu tahun dan dapat diperpanjang.

Sumber & Citations